Wednesday, June 13, 2012




Laporan Praktikum Fisiologi Hewan Air

Pewarnaan Tubuh Ikan






R.Adhariyan Islamy (0910810063) 









Abstract




Fototaksis and coloration of the body is one fish adaptations to their environment to survive.  Fototaksis is taksis movement caused by stimulation of two types namely cahaya. Coloration of the fish body and essentially unlimited range of colors and beauty that have value for the prey to survive. The method used in fototaksis is with the aid of artificial light from a flashlight with six different fish species. While the coloration of the fish body using the method of colored plastic wrap help jar observations. In group 9, the results obtained by observation fototaksis in carp (Cyprinus carpio) negative fototaksis, red pacu fish (Colossoma macropomum) positive fototaksis, fish Snakeskin Gurami (Trichogaster pectoralis) positive fototaksis, Nila (Oreochromis niloticus) negative fototaksis,  cat fish (Pangasius hyphopthalmus) negative fototaksis and Shrimp Galah (Macrobrachium resenbergii) negative fototaksis. In the coloration of fish body, able to absorb the color of the plastic used. Color changes that occurred in fish Sepat Siam (Trichogaster pectoralis) in group 9 were treated with initial colors wrapped in yellow plastic body and during 24 hours of the final color yellow body more clearly, after three minutes of fin colors fade with t0 = t1 = 08:00 and 08:02.
Keywords : fototaksis, light, water, fish, body color



Abstrak

Fototaksis dan pewarnaan tubuh merupakan salah satu adaptasi ikan terhadap lingkungannya untuk bertahan hidup. Fototaksis adalah gerakan taksis yang disebabkan oleh rangsangan cahaya. Fototaksis ada dua jenis yaitu fototaksis negative dan fototaksis positif.  Pewarnaan tubuh ikan dan warna dasarnya tidak terbatas ragam dan keindahannya yang mempunyai nilai bertahan untuk memangsanya. Metode yang digunakan dalam fototaksis adalah dengan bantuan cahaya buatan dari senter dengan 6 spesies ikan yang berbeda. Sedangkan pada pewarnaan tubuh ikan menggunakan metode bantuan plastic berwarna yang membungkus toples pengamatan. Pada kelompok 9, hasil yang didapatkan pengamatan fototaksis yakni pada Ikan Mas (Cyprinus carpio) fototaksis negatif, ikan bawal merah (Colossoma macropomum) fototaksis positif, Ikan sepat (Trichogaster pectoralis) fototaksis positif, Ikan Nila (Oreochromis niloticus) fototaksis negatif, ikan patin (Pangasius hyphopthalmus) fototaksis negatif dan Udang Galah (Macrobrachium resenbergii) fototaksis negatif. Pada pewarnaan tubuh, ikan mampu menyerap warna dari plastik yang digunakan. Perubahan warna yang terjadi pada ikan Sepat Siam (Trichogaster pectoralis) pada kelompok 9 adalah dengan perlakuan dibungkus plastik kuning warna awal tubuh kuning  dan selama 24 jam warna akhir tubuh kuning lebih jelas, setelah 2 menit warna sirip memudar dengan t0 = 08.00 dan t1= 08.02
Kata kunci : fototaksis, cahaya, perairan, ikan, warna tubuh



1.PENDAHULUAN

1.1 Pengertian dan Jenis Fototaksis
Menurut Sudarsono (2010), fototaksis adalah gerak taksis yang menyebabkan oleh adanya rangsangan berupa cahaya.Ikan tertarik cahaya melalui otak (pineal rigean pada otak).Peristiwa tertariknya ikan pada cahaya disebut fototaksis.Dengan demikian ikan tertarik oleh cahaya hanyalah ikan-ikan fototaksis,yang umumnya adalah ikan-ikan pelagis dan sebagian kecil ikan demersal,sedangkan ikan-ikan yang tidak tertarik oleh cahaya akan menjauhi cahaya biasa disebut fotophobi.

Menurut Sahely (2009) dalam Muller dan Steehan (2010),organisme mortil untuk mengeksplorasi lingkungan mereka terus menerus dihadapkan sejumlah besar rangsangan yang membutuhkan hewan untuk membuat keputusan navigasi terlihat pada hewan dengan sistem syaraf sederhana dan juga pada neotiatus maka setidaknya beberapa aturan keputusan harus independen dari pengalaman.Untuk hewan visual ,stimulus yang paling penting adalah gradien cahaya.Proses ini sebut fototaksis positif atau negatif tergantung arahnya.Phototaksis merupakan fenomena luas diamati bahkan dalam bentuk sedimenter diprokarida.Pada sukariota,phototaksis diperkirakan telah berevolusi secara independent setidaknya delapan kali.


1.2  Pewarnaan Tubuh Ikan
Menurut Adisendjaja (2003), zat warna yang ada pada kulit sangat berguna untuk menahan cahaya ultraviolet dan sinar matahari yang dapat merusak jaringan kulit. Bila terlalu lama berjemur di bawah sinar matahari warna kulit akan menjadi sangat gelap. dilain pihat ada sejenis ikan dan salamander yang hidup dalam goa yang gelap tak memiliki warna sama sekali. Warna  putih dengan sedikit kemerah merahan yang disebabkan oleh warna darah yang ada di permukaan kulit. jika hewan tersebut dipelihara di aquarium di bawah sinar matahari, setelah beberapa hari akan timbul bintik-bntik warna coklat kehitaman di bagian tubuh yang terkena sinar. Hal ini dan juga kita alami jika sering terkena sinar matahari dapat terjadi adanya pembentukan pigmen.

Menurut Agusindra (2010), telah dipahami dam diklasifikasikan, pewarnaan pada tubuh ikan dikelompokkan menjadi tiga kategori umum berdasarkan fungsinya yaitu:
-  Kamuflase
Tipe pewarnaan ini merupakan yang paling banyak dipakai oleh ikan dan tergolong sangat penting. Banyak dipakai oleh ikan dan tergolong sangat penting. Banyak dipaki oleh ikan untuk menghindar dari berbagai macam predator yang siap untuk memangsa.
-  Menjual diri
Sistem menjual diri adala system lain warna dan perubahan warna pada ikan. Di dalam air yang sudah padat dengan berbagai macam mahluk, menjual diri merupakan salah satu strategi untuk menjaga eksirtensi, identitas dan juga mencari pasangan.
-  Mimikri
Mimikri merupakan tipe umum ketiga dari pewarnaan dan proses barunya oleh ikan, dalam rangka pertahanan diri atau bertahan. Beberapa jenis ikan menguraikan penampakan (atau tingkah laku) dari spesies lainnya untuk mempertahankan diri atau sekalian memangsanya.



1.3 Cone and Rod pada Ikan dan Udang
Menurut Kimball (1983), reseptor penglihatan sebenarnya pada mata adalah batang dan kerucut.Yaitu sel-sel  tersusun rapat tepat di bawah permukaan retina .(1) Batang kira-kira ada 100 juta batang dalam setiap mata.Batang terutama dipakai untuk penglihan cahaya suram dan teramat peka terhadap cahaya.Akan tetapi bayangan yang dihasilkan batang-batang ini tidak tajam.Satu batang dapat mengawali impuls dalam rangkaian tersebut tetapi otak tidak mungkin menentukan batang mana dalam kumpulam itu yang terlibat.(2) Kerucut.Lebih sedikit yang kita ketahui bagaimana kerucut itu bekerja dibanding dengan bagaimana batang bekerja.Kerucut itu sangat banyaknya (sekitar 15.000 setiap milimeter persegi) di satu daerah retina ,yaitu fovea, suatu daerah tepat di sebarang lensa.Berbeda dario batang,kerucut hanya bekerja dalam cahaya terang.

Menurut Scheer (1984), pada jantan dan hewan diurnal lainnya sel kerucut adalah partikulasi agresi didalam pusat fovea.Disamping itu selaput dari sel batang dan sel kerucut memiliki pigmen epittelium,proses dari sel bersamaan dengan setiap sel visual dimana mata beradaptasi unruk mendapatkan cahaya.Suatu catatan dimana mata (mush) hanaya memiliki sel batang (testudo),sel kerucut dan (rana jantan) memiliki keduanya.

Menurut Weichert (1959), fotoreseptor neurosensorik disebut batang dan kerucut terletak dibagian terluar sensori dari retina,yang terletak dilapisan koroid dan jauh dari cahaya,sel batang dan sel kerucut berbeda dalam bentuk,sel batang berbentuk tipis sedangkan sel kerucut berbentuk pendek dan tebal.



1.4 Pengaruh Cahaya Terhadap Pergerakan Ikan
Adaptasi dari badan ikan terhadap lingkungan internal dan eksternal,sedangkan reaksi ikan merupakan respon yang berhubungan tingkah laku ikan karena adanya rangasangan eksternal.Terdapat dua bentuk reaksi dari hewan terhadap cahaya yaitu fotokinesis dan fototaksis.Fotokinesis adalah respon dalam kecepatan perubahan darah gerakan terhadap suatu intensitas cahaya,sedangkan fototaksis adalah tindakan lokomotor dari suatu organisme mendekat (positif) atau menjauhi (negatif) dari sumber cahaya (Ben Yaml,1987 dalam Utami 2006).

Menurut Suherman (2002), cahaya berpengaruh besar dalam orientasi migrasi ikan secara mudah dapat dihubungkan tingkah laku diurnal dengan siklus diurnal matahari.Hubungan cahaya dengan hasil penangkapan ikan telah dikenal oleh nelayan sejak dahulu.Pengaruh cahaya terhadap tingkah laku ikan tidak mudah dipisahkan.Hela dan Laevestu (1970) dalam Suherman (2002) juga menyatakan bahwa cahaya buatan akan merangsang banyak organisme laut untuk mendekati.Sehingga organisme laut tersebut akhirnya merupakan makanan bagi ikan-ikan pemangsa lainnya.

1.5  Klasifikasi Warna
Menurut Simpson et.al dalam Prinandoyo (2005), komponen utama pembentuk sel pigmen merah dan kuning ini adalah karotenoid. Di alam timbulnya pigmen pada ikan dikarenakan oleh karotenoid dari makanan alami sedangkan pada ikan yang di pelihara dalam bak penampungan mendapatkan sumber kaortenoidnya dari pakan buatan. Pemberian karotenoid memberikan pengaruh nyata terhadap perubahan pigmen merah dan kuning pada ikan koki, koi, dan botia. Warna kuning disebabkan oleh adanya sel pigmen atau khromatophor yang disebut xantophora.

Menurut Adisendjaja (2003), selian tidak berwarna binatang yang hidup di gua juga tidak mampu melihat warna. Berkaitan dengan hal tersebut ada aturan yang cukup berlaku umu tetapi ada pengecualian. Aturan tersebut adalah bloger, yang berfungsi: pada spesies hewan yang homoplem (berdarah panas), pigmen kuning kecoklatan dan merah sangat umum di habitat kering, dan pigmen akan berkurang di daerah beriklim dingin. Secara umum dapat dikatakan bahwa warna hanya dapat terlihat pada bagian-bagian yang terkena cahaya matahari.


1.6  Proses Pewarnaan Tubuh Ikan
Menurut Fuji (1969) dalam Rustidja (1996), perubahan warna ikan pada warna dasarnya telah banyak diketahui, perubahan-perubahan tersebut karena perantaraan dari aktifitas pigmen-pigmen integument yang mengandung sel-sel, disebut kromatopora, sesuai denagan kandungan pigmen-pigmen kromatophore pad aikan umumnya diklasifikasikan menjadi melanophore (coklat atau hitam), eritophore (merah), xantophore (kuning), iridophore (berkilau-kilaian), leucophore atau iridophore mengandung pigmen-pigmen tak berwarna (guarine primer), tetapi pada mulanya mengandung Kristal-kristal kecil dimana dapat berpindah ke belakang dank e mitha dalam sitoplasma, kemudian menjadi Kristal-kristal besar yang tak mampu berpindah dan biasanya menumpuk dalam  lapisa-lapisan.

Menurut Fuji dan Oshima (1986) dalam Oshima dan Akiko (2002), warna kulit ikan diproduksi sebagai hasil dari penyerapan panjang gelombang tertentu dari sinar cahaya oleh pigmen dan dengan hamburan dan refleksi cahaya oleh intro selluler dengan indeks bias yang berbeda dari matriks sitoplasma. Penyerapan chaya olh pigmen dicapai dengan menyerap cahaya sel pigmen (kromatophore) termaksuk melanophores, erytophores, xantophores dan cyanophores, sementara fenomena terakhir engan tidak adanya bahan berwarna, tergantung pada kehadiran cahaya mencerminkan kromophore, leucophores dan iridophores.

1.7  Faktor yang Mempengaruhi Perwarnaan Tubuh
Selain factor makanan yang dapat mempengaruhi perubahan warna pada ikan adalah lingkungan pemeliharaan. Ikan yang dipelihara pada kondisi terang akan memberikan reaksi warna berbeda dengan ikan yang dipelihara di tempat gelap karena adanya perbedaan reaksi nelarosom yang mengandung pigmen melanofor terhadap rangsangan cahaya yang ada (Said et.al, 2005).

Menurut Bseakeng (2000) dalam Kurnia et.al (2010), menyatakan bahwa warna kulit ikan dipengaruhi oleh sumber asx, laju dosis, durasi makanan dan komposisi diet astaxantin yang telah diisolaso dari berbagai sumber, termaksuk bagi rhodozyna heterobaridiomycetous.




2.2 Fungsi alat dan Bahan
2.2.1 Fungsi Alat

a. Fototaksis
Alat-alat yang digunakan pada praktikum mengenai Fototaksis ialah sebagai berikut :
·      Senter                           : sebagai sumber cahaya untuk menentukan jenis fototaksis ikan.
·      Aquarium                      : sebagai media pengamatan ikan.
·      Steroform                     : untuk menutup bagian atas aquarium.
·      Aerator                          : sebagai alat penyuplai oksigen pada media pengamatan.
·      Selang aerasi                : sebagai saluran untuk menyuplai udara atau oksigen.
·      Batu aerasi                   : untuk menyaring udara atau oksigen.


b. Pewarnaan Tubuh Ikan
Alat-alat yang digunakan pada praktikum mengenai Pewarnaan Tubuh Ikan ialah sebagai berikut :
·      Toples                           : sebagai sumber cahaya untuk menentukan jenis fototaksis ikan.
·      Kamera digital               : untuk mengambil gambar ikan sebelum dan sesudah pengamatan.
·      Aerator                          : sebagai alat penyuplai oksigen pada media pengamatan.
·      Selang aerasi                : sebagai saluran untuk menyuplai udara atau oksigen.
·      Batu aerasi                    : untuk menyaring udara atau oksigen.
·      Stopwatch                      : untuk menghitung waktu.
·      Ember                             : tempat ikan sebelum diamati.
·      Lap basah                        : untuk pengkondisian agar ikan  tidak stres.
·      T                                      : sebagai percabangan selang aerator.


2.2.2 Fungsi Bahan
a. Fototaksis
Bahan-bahan  yang digunakan pada praktikum mengenai fototaksis ialah sebagai berikut :
·      Ikan nila (Oreochromis niloticus) : sebagai bahan yang akan diamati.
·      Ikan mas (Cyprinus carpio) : sebagai bahan yang akan diamati.
·      Ikan sepat (Trichogaster sp) : sebagai bahan yang akan diamati.
·      Udang galah (Macrobachium rossenbergii) : sebagai bahan yang akan diamati.
·      Ikan patin (Pangasius hypopthalmus) : sebagai bahan yang akan diamati.
·      Ikan bawal merah (Collosoma macropomum) : sebagai bahan yang akan diamati.
·      Plastic gelap : untuk membungkus aquarium agar cahaya tidak masuk.
·      Air                                      : sebagai media tempat hidup ikan.


b. Pewarnaan Tubuh Ikan
Bahan-bahan  yang digunakan pada praktikum mengenai Pewarnaan Tubuh Ikan ialah sebagai berikut :
·      Plastik (hitam,merah ,ungu,kuning,biru)    : sebagai penutup toples dan mengetahui respon ikan terhadap warna.
·      Karet gelang                      : untuk mengikat plastik yang menutupi toples.
·      Air                                      : sebagai media hidup ikan.
·      Ikan sepat (Trichogaster sp) : sebagai bahan yang akan diamati.




3.DATA HASIL PENGAMATAN

3.1 Tabel Pengaruh Fototaksis
Kelompok
Nila
Mas
Udang galah
Patin
Bawal merah
Sepat
1
-
-
-
-
+
-
2
-
+
-
-
+
-
3
-
+
-
-
-
+
4
-
+
-
-
+
+
5
-
-
-
-
-
-
6
-
+
-
-
-
+
7
-
+
-
-
-
+
8
-
-
-
-
-
+
9
-
-
-
-
+
+
10
-
-
-
-
-
-
Keterangan :
+          : fototaksis positif
-                                    -                     : fototaksis negatif



3.2 Tabel Pengaruh Pewarnaan Tubuh

Kel
Perlakuan
WarnaAwal
WarnaAkhir
to
ti
1
Kontrol
-   Warna dorsal dan ventral kuning, kaudalkuning.

-  Warna tetap.
08.00
08.08.06

Pengamatan
-  Perutkuning, dorsal kuning.
-  Terdapat titik putih disirip caudal, dorsal, pectoral.

-  warna di dekat operculum menjadi hitam.


2
Kontrol
-  Ikan berwarna kuning cerah, transparan.
-  -Terdapat garis tubuh warna keemasan.
-  Terdapat spot dibagian ekor.

-  Kuning cerah.
-  Terdapat garis tubuh warna keemasan.
-  Spot di caudal.
08.05


Pengamatan
-  Ikan berwarna kuning cerah transparan.
-  Garis warnanya terang spot ada 2 diekor.


-  Kuning cerah.
-  Dibagian perut terdapat warna merah.
08.05
08.14.37
3
Kontrol
-  Ada spot pada bagian sirip anal.

-  Mata berwarna merah.
08.15
08.16.58

Pengamatan
-  Punggung kuning.
-  Perut merah.

-  Disekitar pectoral berwarna biru.
-  Bagian dorsal berwarna biru.


4
Kontrol
-  Dorsal dan ventral kuning.
-  Caudal dan anal terdapat titik-titik putih.

-  Warna tetap.
08.00


Pengamatan
-  Sirip ventral lebih kuning dari control, terdapat titik putih.

-  sirip anal lebih kuning (terang).

08.00
08.08.44
5
Kontrol
-  Anal ventral lebih kuning.
-  Caudal dan anal terdapat titik-titik putih.

-  Warna tetap.



Pengamatan
-  Anal dan caudal kuning.


-  Warna ungu mengkilau di bagian perut dan Operculum sedikit gelap.
08.00
08.00.55
6
Kontrol
-  Caudal kuning.

-  Warna pada sirip anal berubah menjadi hitam
08.00
08.02.00

Pengamatan
-  Mata warna kuning.
-  Perut putih.
-  Ventral kuning



7
Kontrol
-  Pinggiran mata berwarna kuning.
-  Bagian perut berwarna putih.
-  Sirip anal berwarna kuning dan terdapat Spot berwarna putih.




Pengamatan
-  Berwarna putih bagian perut.
-  Pinggiran mata berwarna kuning.

-  Warna merah pada bagian kepala, perut dan sirip anal warnanya tetap.
08.16
08.39.14
8
Kontrol
-  Dorsal dan ventral kuning.
-  Pangkal ekor terdapat titik hitam.

08.15


Pengamatan
-  Dorsal dan ventral kuning.

-  Insang biru dorsal dan ventral biru.
08.15
08.15.42
9
Kontrol
<.td>
-  Ikan berwarna kuning muda.
-  warna perut lebih putih.




Pengamatan
-  Bagian dorsal kuning.
-  ventral berwarna kuning.
-  bagian perut putih.

-  Kuning pada mayoritas tubuhnya.
08.00
08.02.00
10
Kontrol
-  Warna lebih kuning.
-  Ukuran lebih kecil di banding ikan pengamatan.
-  perut berwarna perak.

-   Warna lebih kering atau cerah.
08.00


Pengamatan
-  Warna lebih putih.
-  Perut berwarna putih.
-  Caudalnya putih.

-   Warna berubah ungu pada bagian perut kebawah sampai sirip anal
08.00
08.08.07






Analisa Grafik




Berdasarkan praktikum fisiologi hewan air mengenai pewarnaan pada tubuh ikan diperoleh hasil kelopok 7 dengan menggunakan plastik berwarna merah membutuhkan waktu untuk pembeudaran warnanya paling lama yaitu 23 menit 14 detik, ini sesuai karena warna merah mempunyai warna panang gelombang yang tinggi, sehingga waktu yang dibutuhkan juga lama. Sedangkan pada kelompok 10 dengan menggunakan plastik warna ungu memerlukan waktu untuk pembeudaran warna selama 30 detik saja. Hal ini sesuai karena warna ungu mempunyai panjang gelombang warna yang pendek, sehingga besar panjang gelombang semakn lma waktu yang dibutuhkan untuk pembeudaran waran pada tubuh ikan, sebaliknya semakin pendek panjang gelombang warna semakin cepat pula waktu untuk pembeudaran warna.






4. PEMBAHASAN

4.1 Analisa Prosedur
4.1.1 Fototaksis
     Hal pertama yang harus dilakukan dalam praktikum Fisiologi Hewan Air dengan materi fototaksis adalah menyiapkan alat dan bahan. Alat – alat yang digunakan adalah aquarium persegi bahan kaca datar sebagai media pengamatan ikan, senter sebagai sumber cahaya pada saat pengamatan, aerator sebagai suplai oksigen, nampan untuk menutup bagian atas aquarium. Bahan – bahan yang digunakan adalah ikan Mas (Cyprinus carpio) , ikan Patin (Pangasius hypopthalmus), ikan Sepat (Trichogaster sp), ikan Bawal merah (Collosoma macropomum) , Udang Galah (Macrobranchium rosenbergii) kelima ikan tersebut sebagai objek yang diamati fototaksisnya. Air sebagai media hidup ikan, plastic gelap hitam untuk menutup aquarium, selotip untuk meletakkan plastic pada aquarium, kertas label untuk menandai aquarium.

Setelah alat dan bahan sudah siap, Isi aquarium persegi denagn air sebagai media hidup ikan sebanyak ¾ bagian agar ikan tidak mudah melompat keluar dan air tidak tumpah ketika ikan dimasukkan. Penggunaan aquarium dikarenakan akca aquarium yang datar sehingga tidak membelokkan atau membiaskan cahaya dapat memudahkan pengamatan saat pemberian cahaya dari lampu senter.  Lalu aquarium dibungkus dengan plastik besar berwarna hitam agar cahaya tidak dapat menembus atau masuk dalam aquarium. Pada bagian plastik diberi lubang untuk jalan masuknya cahaya. Kemudian ikan Mas (Cyprinus carpio) , ikan Patin (Pangasius hypopthalmus), ikan Sepat (Trichogaster sp), ikan Bawal merah (Collossoma macropomum) , Udang Galah (Macrobrachium rosenbergii), dimasukkan kedalam aquarium yang berbeda – beda dan diberi kerrtas label untuk menandai jenis ikan dalam aquarium. Menggunakan ikan yang berbeda – beda untuk mengetahui iakn mana yang melakukan fototaksis positif, fototaksis negative dan fototaksis netral.  Lalu pengamatan menuggu malam hari karena tidak cahaya terang yang dapat mempengaruhi hasil dari pengamatan fototaksis. Lalu diberi sumber cahaya dari lampu bersifat fokus yaitu lampu senter. Pemberian cahaya dilakukan untuk mengetahui  perubahan ikan mana yang melakukan fototaksis positif, fototaksis negatif, dan fototaksis netral. Setelah itu diamati tingkah laku yang terjadi dan hasil pengamatan dicatat pada table pengamatan.

4.1.2 Pewarnaan Tubuh 
Langkah pertama yang harus dilakukan dalm praktikum Pewarnaan Darah adalah disiapkan alat dan bahan. Alat yang digunakan adalah toples kapasitas 2 liter sebanyak 2 buah sebagai wadah ikan saat pengamatan pewarnaaan tubuh,stopwatch untuk menghitung waktu pengamatan,kamera digital untuk mengambil gambar hasil pengamatan filamen darah,aerasi untuk menghasilkan udara dalam toples, selang aerator sebagai sumber oksigen dalam toples,batu aerasi untuk menyebarkan oksigen dalam toples. Bahan yang digunakan adalah ikan sepat kuning ( Trichogaster sp ) digunakan sebagai objek pengamatan pewarnaan tubuh,plastik warna biru,hitam.merah,ungu,kuning,digunakan sebagai media hidup ikan,lap basah untuk pengkondisian lembab agar ikan tidak mati.

Langkah selanjutnya adalah disiapkan 2 buah toples berkapasitas 2 liter,masing – masing toples diisi ¾ bagian agar ikan tidak tumpah saat dimasuki ikan. Selain itu tujuan digunakan toples  bening supaya supaya memudahkan dalam mengamati warna ikan. Setelah itu ikan Sepat Kuning ( Trichogaster sp ) dimasukkan kedalam masing – masing dan diadaptasikan selama 15 menit agar ikan tidak stress. Tujuan digunakan ikan sepat ( Trichogaster sp ) adalah karena ikan tersebut mudah memudar warna dan memiliki pigmen bening. Lalu dicatat warna tubuh awal untuk membandingkan warna setelah diberi perlakuan. Setelah itu diberi aerasi untuk menghasilkan udara.

Sebelum ikan ditempatkan pada toples yang kedua digunakan sebagai kontrol. Setelah itu toples yang akan diberi perlakuan ditutup plastik. Sesuai dengan kelompok 1 dan kelompok 6 plastik warna hitam,kelompok 2 dan 7 plastik warna merah,kelompok 3 dan 8 plastik warna kuning,kelompok 4 dan 9 plastik warna kuning,kelompok 5 dan 10 plastik warna ungu. Lalu toples yang telah diberi plastik,diikat dengan karet gelang agar toples tertutup rapat. Kemudian dibiarkan selama 24 jam,ikan difoto agar diketahui perubahan warna,lalu diamati dan dicatat waktu saat warna tubuh ikan kembali normal. Lalu dicatat hasilnya.

4.2 Analisa Hasil
4.2.1 Fototaksis
Dari praktikum tentang fototajsis diperoleh hasil kelompok 1-10 untuk ikan nila (Oreochromis niloticus) berjenis fototaksis negative, ikan mas (Cyprinus carpio) untuk kelompok 1,5,8,9,10 mengalami fototaksis negative sedangkan kelompok 2,3,4,6,7 mengalami fototaksis positif, udang galah (Macrobrachium rossenbergii) pada kelompok 1-10 mengalami fototaksis negative. Begitupun pada ikan patin (Pangasius hypopthalmus) juga mengalami fototaksis negative. Ikan bawal merah (Colossoma macropomum), untuk kelompok 1,2,4,9 mengalami fototaksis positif, sedangkan kelompok 3,5,6,7,8,10 mengalami fototaksis negative. Untuk ikan sepat (Trichogaster sp) pada kelompok 1,5,10 mengalami fototaksis negative,sedangkan pada kelompok 2,3,4,6,7,8,9 mengalami fototaksis positif. Dalam hal ini ikan yang bersifat  fototaksis positif termasuk hewan diurnal yaitu hewan yang aktif pada siang hari,baik berberak maupun mencari makan. Sedangjan ikan-ikan yang berfototaksis negative termasuk ikan nocturnal yaitu ikan yang aktif pada malam hari, baik saat mencari makan maupun bergerak.

Menurut He (1989) dalam  Utami (2006), terdapat teori tentang ikan berenang mendekati sumber cahaya (fototaksis yaitu forced movement theory, adaptation theory dan feeding phototaksis theory), sedangkan factor-faktor yang mempengaruhi fototaksis pada ikan adalah faktor internal seperti umur, jenis kelamin dan kepenuhan isi lambung serta factor eksternal seperti temperatu air, level lingkungan cahaya (dini hari dan bulan purnama), intensitas dan warna dari sumber cahaya, ada tidaknya makanan dan kehadiran predator.

Dari pengamatan ikan mas (Cyprinus carpio) adalah  tergolong ikan fototaksis negative karena saat diberi rangsangan berupa cahaya, ikan mas membelakangi cahaya sehingga ikan mas dapat disimpulkan aktif di malam hari (nocturnal); hidup didasar dan termasuk dlam ikan sel batang yang mengandung pigmen peka terhadap cahaya selain itu cara dia mencari makan dengan cara mencari makan di tepi perairan. Hal tersebut dapat dijelaskan dalam Laili (2007) dalam  Khairuman (2002), bahwa ikan mas biasa hidup di perairan air tawar  yang tidak terlalu dalam dan alirannya tidak terlalu deras, misalnya dipinggiran sungai atau atau danau. Ikan mas dapat hidup diketinggian 150-600 m di atas permukaan laut dan suhu 25-30°C, pH air antara 7-8. Meskipun tergolong ikan air tawar,  ikan mas gterkadang juga ditemukan di perairan payau atau dimuara sungai yang bersalinitas (kadar garam).

4.2.2 Pewarnaan Tubuh
Dari data hasil pengamatan diperoleh bahwa ikan sepat (Trichogaster sp.) pada kelompok 7 dengan perlakuan dibungkus plastik warna merah didapatkan hasil perlakuan kontrol warna awal ikan sepat (Trichogaster sp.) pinggiran mata berwarna kuning dan terdapat spot berwarna putih.Setelah selang waktu 24 jam dibuka toples yang dibungkus plastik warna merah opada pukul 08.16 didapatkan hasil pengamatan bahwa bagian sirip anal,perut dan kepala berwarna merah pada menit ke 39,14 detik warna merah pada bagian perut,kepala dan sirip anal memudar lama kelamaan kembali seperti warna awal.Dapat disimpulkan bahwa warna tubuh ikan dapat dipengaruhi oleh lingkungannya,tetapi hal tersebut bersifat sementara karena warna dasar tergantung faktor genetik,perubahan warna juga dipengaruhi dari tingkat warna yang diberikan.Hal ini sesuai dengan pernyataan Adisendjaja (2003),selain tidak berwarna binatang yang hidup diu gua juga tidak mampu melihat warna.Berkaitan hal tersebut ada aturan yang cukup berlaku umum tetapi tentu ada pengecualian. Aturan tersebut aturan bloger yang berfungsi pada spesies hewan yang hemoplem (berdarah panas) pigmen kuning kecoklatan dan merah sangat umum di habitat yang kering,dan pigmen akan berkurang didaerah beriklim dingin.Secara umum dapat dikatakan bahwa warna hanya dapat terlihat pada bagian yang terkena cahaya sinar matahari.

Menurut Ardi (2011), hubungan antara warna terhadap nilai panjang gelombang :
Warna
Panjang gelombam (nm)
Merah
780-622
Jingga
622-597
Kuning
597-577
Hijau
577-492
Biru
492-455
Nila
455-424
Ungu
424-390




4.3 Faktor Koreksi
Faktor yang dapat dijadikan koreksi dalam praktikum kali ini adalah sebagai berikut :
·      Pada saat pengamatan fototaksis praktikan kurang teliti dalam mengamati ikan sehingga data yang dihasilkan kurang akurat.
·      Pada saat praktikum berlangsung terjadi kerusakan alat yaitu aerasi sehingga aerasi yang diberikan pada oikan juga terlambat hal ini tentunua akan mempengaruhi pola oksigen.
·      Kesalahan prosedur kerja yang tidak sesuai dengan ketentuan,tentu dapat mempengaruhi data hasil pengamatan.
·      Plastik yang digunakan pada pewarnaan yang digunakan terlalu tipis sehingga membutuhkan plastik yang lebih banyak untuk mendapatkan hasil penyerapan yang maksimal.

4.4 Manfaat Di Bidang Perikanan
Manfaat yang dapat diperoleh dari praktikum kali ini adalah sebagai berikut :
·      Pada praktikum fototaksis pada ikan kita dapat mengetahui pola distribusi pada ikan dan tentunya mempermudah proses penangkapan jenis ikan tertentu.
·      Pada praktikum pewarnaan rubuh ikan kita bisa menyediakan tempat usaha budidaya yang sesuai.
·      Dengan mengetahui jenis fototaksis pada ikan kita bisa memperkirakan waktu untuk penangkapan ikan.
·      Kita bisa mengetahui sifat hidup ikan yang terlihat pada warna pada tubuhnya.
·      Pada praktikum fototaksis kita dapat mengetahui panjang gelombang spektrum yang akan mem pengaruhi kualitas air.









5. PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Dari hasil pengamatan kali ini,dapat ditarik beberapa kesimpulan diantaranya adalah sebagai berikut :
-     Fototaksis dalah gerak taksis yang disebabkan oleh adanya rangsangan berupa cahaya.
-     Zat warna yang ada di kulit sangat berguna untuk menahan cahaya ultraviolet dari sinar matahari yang dapat merusak jaringan kulit.
-     Tingkah laku ikan adalah adaptasi dari badan ikan terhadap lingkungan internal dan eksternal.
-     Fototaksis ada dua yaitu fototaksis negatif adalah gerak pindah ikan untuk sumber cahaya sedangkan fototaksis  positif adalah gerak pindah tempat ikan
-     Ada dua unsur pembentuk warna yaitu skemakrom dipengaruhi dari lingkungan  dan biokrom adalah pengaruh dari dalam tubuh organisme
-     Biokrom ada dua macam yaitu guanophore dan kromatophore
-     Kromatophore dibagi menjadi tiga jenis yaitu melanophore adalah peka terhadap warna gelap,hijau dan hitam,eritrophore adalah peka terhadap warna merah,sedangkan xantophore adalah peka terhadap warna kuning
-     Anti koagulan dibedakan menjadi empat macam yaitu Na sitrat,Na fisiologis,Heparin,EDTA
-     Hasil pengamatn pengamatan kelompok 7,ikan nila (Oreochromis niloticus)fototaksis negatif, ikan mas (Cyprinus carpio)fototaksisnya positif,udang galah (Macrobrachium rossenbergii) jenis fototaksis negatif.Pada ikan patin (Pangasius hyphopthalmus) fototaksis negatif, ikan bawal merah (Colossoma macropomum)fototaksis negatif, ikan sepat (Trichogaster sp.) fototaksis positif.
-     Hasil pewarnaan pada kelompok 7 dengan perlakuan plastik warna merah didapat warna merah pada perut,kepala dan sirip anal.

5.2 Saran
Sebaiknya praktikan harus berhati-hati jika melakukan pengamatan di laboratorium sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti memecahkan toples.






DAFTAR PUSTAKA

Adisendjaja dan Y. Hilmi. 2003. Warna dan Maknanya dan Kehidupan. http://file.up.ealdirectorydalam%20kehidupan.pdf.  Diakses pada tangal 29 April 2011 pukul 20.00 WIB.
Agus I. 2010. Budidaya Ikan Nila. http://pemancingan.com/budidaya_ikan_nila. Diakses pada tanggal 29 April 2011 pukul 20.00 WIB.
Djarijah dan A. Siregar. 2001. Pembenihan Ikan Mas. Kanisius. Yogyakarta.
Khairuman dan Khairul Amri. 2003. Petunjuk Praktis Memancing Ikan Air Tawar. Agromedia Pustaka. Depok.
Kimball, John W. 1983. Biologi Jilid 2. Erlangga. Jakarta.
Kordi, M. G.H. 2010. Panduan Lengkap Memelihara Ikan Air Tawar di Kolam Terpal. Andi Offset. Yogyakarta.
Kordi, M.G.H. 2010. Budidaya Ikan Nila di Kolam Terpal lebih mudah, lebih murah, lebih untung. Lili Publisher. Yogyakarta.
Kurnia, Agus. 2010. Effect of Pacoccus sp. And Their Genetically Modified on Skin Colaration of Real Sea Bream. Journal of Bioscience. http://journal.ipb.ac.id/index.pdf. Diakses tanggal 6 Mei 2011 pukul 10.00 WIB.
Moller and Stephan, CF. Neuhauss. 2010. Behavioral Neurobiology: How Larva Fish Orient Toward The Light. http://www.imit.towards.02h.ch/static/cms_publitions/neuhauss/literatur/2010/289.pdf. Diakses pada tanggal 6 Mei 2011 pukul 13.00 WIB.
Ostima dan A. Kasai. 2002. Iridophores Involved in Generation of Skin Center in The Zebra Fiah, Branchidanio rerio. http://rinorg.uk/news. Diakses pada tanggal 6 Mei 2011 pukul 13.00 WIB.
Prinandoyo.2005. Pewarnaan pada Ikan. http://staffundip.ac.id/2011/. Diakses pada tanggal 28 April 2011 pukul 13.00 WIB.
Purwakusuma. 2010. Warna pada Ikan. http://o-fish.com/warna/warnaphp/. Diakses pada tanggal 4 Mei 2011 pukul 19.00 WIB.
Rustidja. 1996. Marcolorinasi Ikan Nila. Universitas Brawijaya. Malang.
Said, D.S. Triyanto dan N Fauzi. 2006. Adaptasi Jenis Makanan untuk Pertumbuhan Ikan Pelangi (Iriantherina wetheri) jurnal.
Sudarsono dan Moyoginta. 2010. Pengaruh Kromanium dalam Pakan Terhadap Kadar Glukosa Darah, Koesien Respirator, Ekstkresi NH3-N dan Pertumbuhan Ikan Gurami; Vol. 10 No. 1 hal. 25-29.
Sugito,  Wahyu, S. Firdausi dan S. Mahmudah. 2005. Pengukuran Panjang Gelombang Sumber Cahaya Berdasarkan pada Interferensi Celah Banyat. http://journal-panjang­_gelombang.pdf. Diakses pada tanggal 2 Mei 2010 pukul 08.50 WIB.
Suherman, A.2002.Analisis Hasil Tangkapan Mini Purse Serne Menggunakan Alat Basis Cahaya. http://repository.ipb.ac.id/bilstream/handle.pdf . Diakses pada tanggal 28 Aprl 2011 pukul 11.00 WIB.
Sulaiman, M. 2008. Reaksi Terhadap Intensitas Cahaya Berwarna. http://www.damandisi.or.id/file/muhammadsulaiman.pbhp.pdf. Diakses pada tanggal 6 Mei 2011 pukul 11.00 WIB.
Thorstant, B. Eva, I. A. Fleming and T. F. Haesso. 2002. Aquatic Telementry Kluwer Academic Publisher. Wetherlands.
Utami, E. 2006. Analisis Respons Tingkah Laku Ikan Pepetek Iseather Instutor Terhadap Intensitas.pdf. Diakses pada tanggal 28 April 2011 pukul 23.00 WIB.
Weichert, C. 1959. Elements of Corile Anatomy. Mc. Graw Hill. New York.

No comments: