Kamis, 08 November 2012

Protozoa


Protozoa

A.    Pengertian Protozoa
Protozoa (Protos = pertama ; Zoa = hidup) adalah hewan mikroskopik yang terdapat d semua lingkungan di mana kehidupan dapat terjadi. Mereka tersebar luas di seluruh dunia. Banyak dari mereka mampu membentuk sista (cyst), atau membuat semacam cangkang yang menutupi sekujur tubuhnya sehingga mereka dapat hidup dalam kondisi yang kering sama sekali, yang tidak memungkinkan makhluk lain hidup. Sifat yang khas ialah bahwa mereka terdiri dari satu sel.

Ciri-ciri protozoa yakni :
a.       Sifat hidupnya kosmopolit artinya dapat hidup di tempat atau habitat apapun.
b.       Pada ummnya hidup bebas pada tempat yang lembab atau berair (akuatik) seperti di air tawar, air laut, hutan, sawah serta sebagai parasit pada tubuh organism lainnya.
c.       Pada umumnya hidup soliter (menyendiri atau sepasang-sepasang) tetapi ada juga yang hidup sebagai koloni.
d.       Protozoa merupakan bagian plankton di air tawar atau air laut dan berperan penting sebagai indicator polusi.
e.       sejumlah protozoa dapat menimbulkan penyakit.
f.        Dalam kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan protozoa dapat membentuk kista agar dapat berhana hidup lebih lama.
g.       Jika kondisi di sekitarnya membaik, maka kista akan pecah dan protozoa akan kembali hidup secara aktif.

B.  Habitat Protozoa
Protozoa hidup di air atau setidaknya di tempat yang basah. Mereka umumnya hidup bebas dan terdapat di lautan, lingkungan air tawar, atau daratan. Beberapa spesies bersifat parasitik, hidup pada organisme inang. Inang protozoa yang bersifat parasit dapat berupa organisme sederhana seperti algae, sampai vertebrata yang kompleks, termasuk manusia. Beberapa spesies dapat tumbuh di dalam tanah atau pada permukaan tumbuh-tumbuhan.

Semua protozoa memerlukan kelembaban yang tinggi pada habitat apapun. Beberapa jenis protozoa laut merupakan bagian dari zooplankton. Protozoa laut yang lain hidup di dasar laut. Spesies yang hidup di air tawar dapat berada di danau, sungai, kolam, atau genangan air. Ada pula protozoa yang tidak bersifat parasit yang hidup di dalam usus termit atau di dalam rumen hewan ruminansia.

Beberapa protozoa berbahaya bagi manusia karena mereka dapat menyebabkan penyakit serius. Protozoa yang lain membantu karena mereka memakan bakteri berbahaya dan menjadi makanan untuk ikan dan hewan lainnya.

C.   Morfologi Protozoa
Semua protozoa mempunyai vakuola kontraktil. Vakuola dapat berperan sebagai pompa untuk mengeluarkan kelebihan air dari sel, atau untuk mengatur tekanan osmosis. Jumlah dan letak vakuola kontraktil berbeda pada setiap spesies. Protozoa dapat berada dalam bentuk  vegetative (trophozoite), atau bentuk istirahat yang disebut kista. Protozoa pada keadaan yang tidak menguntungkan dapat membentuk kista untuk mempertahankan hidupnya. Saat kista berada pada keadaan yang menguntungkan, maka akan berkecambah menjadi sel vegetatifnya.

Protozoa tidak mempunyai dinding sel, dan tidak mengandung selulosa atau khitin seperti pada jamur dan algae. Kebanyakan protozoa mempunyai bentuk spesifik, yang ditandai dengan fleksibilitas ektoplasma yang ada dalam membran sel. Beberapa jenis protozoa seperti Foraminifera mempunyai kerangka luar sangat keras yang tersusun dari Si dan Ca. Beberapa protozoa seperti Difflugia, dapat mengikat partikel mineral untuk membentuk kerangka luar yang keras. Radiolarian dan Heliozoan dapat menghasilkan skeleton. Kerangka luar yang keras ini sering ditemukan dalam bentuk fosil. Kerangka luar Foraminifera tersusun dari CaO2 sehingga koloninya dalam waktu jutaan tahun dapat membentuk batuan kapur. Protozoa merupakan sel tunggal, yang dapat bergerak secara khas menggunakan pseudopodia (kaki palsu), flagela atau silia, namun ada yang tidak dapat bergerak aktif.

D.   Klasifikasi Protozoa
1.    Kelompok Protozoa
Protozoa dikelompokkan menurut habitatnya menjadi dua yaitu mereka yang hidup di dalam air atau di tempat tempat lembab dan di kenal sebagai protozoa yang hidup bebas. Lalu mereka yang hidup didalam atau pada hewan atau tumbuhan – tumbuhan lain dan disebut dengan protozoa Parasitik.

Kelompok pertama tidak tersebar begitu saja dalam lingkungan air, tetapi setiap jenis kurang lebih mendiami tipe habitat tertentu seperti halnya hewan tingkat tinggi. Beberapa jenis protozoa hidup di air tawar, lainnya pada air laut dan lainnya lagi hudup pada dasar perairan. Kelompok protozoa ini terdapat dimana mana di dunia dimana terdapat air atau tempat berair atau tempat lembab.

Kelompok kedua mudah di pisahkan, karena mereka pasitik dan tidak mempunyai cara untuk bergerak sendiri. Mereka mempunyai habitat yang terbatas. Protozoa parasitic biasanya dipisahkan menjadi dua kelompok yaitu mereka yang hidup dalam saluran pencernaan dinamakan protozoa usus dan mereka yang hidup dalam darah dinamakan protozoa penghuni darah. Jumlah jenis protozoa sangat besar sehingga tidak dapat diperkirakan.

2.    Kelas Protozoa
Filum protozoa terdiri dari 4 kelas yakni :
(a)   Kelas Ciliata (Infusoria)

Sifat khas dari kelas ini adalah bulu getar seperti rambut di sekujur tubuhnya yang digunakan untuk bergerak, menangkap makanan, atau kadang hanya menimbulkan arus air untuk pernapasan. Pada kelompok tertentu, bulu getar tersebut dimiliki sepanjang hidupnya dan pada kelompok yang lain bulu bulu getar tersebut hanya dimiliki di sebagaian daur hidupnya.

Sebagian besar ciliata hidup bebas, baik di air tawar maupun di air laut. Ada sementara pakar membagi kelas ini menjadi dua anak-kelas, yakni ciliate dan suctoria. Yang pertama memiliki bulu getar, baik yang muda maupun yang dewasa dan yang kedua, bulu getar itu hanya dimiliki pada yang muda saja, dewasanya dilengkapi tentakel. Sebenarnya mereka menyedot protoplasma atau cairan hidup dari protozoa lain yang ditangkap. Mereka adalah makhluk-mahkluk yang menarik tetapi tidak begitu penting dalam mempelajari kehidupan laut.

Paramecium
·         Dalam tubuh Paramecium memiliki dua macam inti (nucleus) yaitu inti kecil (mikronukleus) dan inti besar (makronucleus).
·         Di samping itu memiliki vakuola makanan yang berfungsi untuk mencerna dan mengedarkan makanan, serta vakuola berdenyut yang berguna untuk mengeluarkan sisa makanan.
·         Paramecium bergerak dengan menggetarkan silianya, yang bergerak melayang-layang di dalam air.
·         Hal ini akan terlihat jika menggunakan mikroskop.
·         Sedangkan cara menangkap makanan adalah dengan cara menggetarkan rambut (silianya), maka terjadi aliran air keluar dan masuk mulut sel. Saat itulah bersamaan dengan air masuk bakteri bahan organik atau hewan uniseluler lainnya.

Berkembangbiak Paramecium adalah dengan cara:

1)    Asexual
·      Aseksual atau dengan cara membelah diri yaitu dengan pembelahan biner dimana sel membelah menjadi 2 kemudian menjadi 4, 8 dan 16 dst.
·      Pembelahan diawali dengan pembelahan mikronukleus dan diikuti dengan pembelahan makronucleus.

2)    Seksual atau perkembangbiakan secara kawin
·      Caranya adalah dua sel saling mendekat, menempel pada bagian mulut sel untuk kawin. Artinya kedua hewan ini sedang mengalami konjugasi.
·      Selanjutnya terbentuk saluran konjugasi diantara kedua sel ini.
·      Dan melalui saluran ini terjadi tukar-menukar mikronukleus.
·      Mikronukleus dari sel yang satu pindah ke sel yang lain, demikianlah sebaliknya. Selanjutnya perhatikan gambar berikut ini:
Konjugasi pada Paramecium


suku dari kelas ciliata yang lain adalah tintinnidae. Hampir semua suku ini hidup di laut Mereka membentuk kanting kitin yang dinamakan lorika (lorica) yakni penutup luar pelindung yang  dihasilkan oleh sekresi sekujur tubuh. Bentuk lorika masing masing jenis berbeda sehingga bagian tubuh hewan ini digunakan sebagai ciri utama untuk identifikasi. Lorika tidak selalu untuk melindungi tubuh, karena jenis yang tidak memiliki lorika Nampak lebih berhasil hidup. Mereka sangat banyak, jumlah jenisnya dan umumnya planktonik. Beberapa diantaranya bertindak sebagai tuan rumah dinoflagellata parasitic. Parasit itu Nampak seperti nucleus tambahan yang besar. Tetapi jika dilihat lebih dekat ia adalah sel parasit itu sendiri yang mempunyai nucleus, yang terdapat dalam sitoplasma tintinid.



(b)   Kelas Rhizopoda atau Sarcodina
Sifat khas dari hewan ini adalah gerakannya dilakukan dengan menjulurkan badannya dan mengerutkannya kembali atau bergerak dengan kaki semu atau pseupodium (Pseupodia). Kelompok yang mendapat perhatian khusus dari kelas ini adalah ordo foraminifera dan radiolarian, meskipun masih ada satu ordo lagi, yakni heliozoan, tetapi ordo ini mencangkup hewan air tawar, jadi tidak diterangkan disini.

Ordo Foraminifera
Semua foraminifera (sebutan umumnya foram) mempunyai cangkang. Cangkang yang dihasilkan oleh hewan ini umumnya terdiri dari bahan kitin atau kapur. Beberapa cangkang terbentuk dari bahan fisika gelatin, yang lain berasal dari bahan dari luar yang direkat jadi satu. Ada dua tipe foraminifera, yakni yang tidak berlubang lubang dan yang berlubang lubang. Yang pertama mempunyai lubang tunggal, melalui lubang ini menjulur kaki semu. Yang kedua, sebagai tambahan, mempunyai banyak lubang dan melalui lubang lubang ini, protoplasma manjulur keluar dan mengkerut kembali. Gerakan seperti ini disebut streaming yang menciptakan kaki semu dan yang selalu bergerak. Inilah sifat khas dari kelas ini.


Ordo Radiolaria
Radiolaria hanya hidup di laut. Lebih dari 4000 jenis ditemukan dan sebagian besar hidup di laut jeluk. Hewan ini umumnya mempunyai bentuk cangkang terdiri dari silica dan bentuknya bulat. Kerangkanya berupa jejaring yang indah dipandang ukuran umumnya kecil. Kurang dari 2mm, tetapi kadang mengelompok membentuk gumpalan 2,54 cm lebarnya. Kaki semunya dan kebiasaan makannya sama seperti foram. Seperti juga beberapa foram, mereka ada yang bersimbiosis dengan zooxanthellae.

Sifat khas hewan ini adalah kerangkanya terdiri dari silica yang tidak larut di lapisan perairan jeluk. Tidak seperti kerangka kapur yang larut di tempat itu. Gejala laut inilah yang membuat sebagian besar area dasar laut jeluk ditutupi oleh nenes raiolaria (radiolarian ooze), bukan nenes globigerina. Nenes ini biasanya terdapat pada kejelukan lebih dari 3.600 m dan menutupi area seluas3,7 juta km2, dibandingkan dengan area nenes globigerina yang 89 juta km2 luasnya.

(c)   Kelas Flagellata (Mastigophora)
Kelas mastigophora mencangkup Protozoa renik yang sangat besar jumlahnya.sehingga agak sulit bagi para pakar zoology untuk mengklasifikasikan mereka. Oleh sebab itu taksonomi kelompok protozoa ini dalam keadaan kacau. @da sifat mereka yang mendua sehingga menimbulkan pertanyaan apakah flagellate ini hewan atau tumbuhan? Mereka hewan karena bisa bergerak kesana kemari dan menunjukkan kegiatan seperti hewan, yakni “makan” hewan lain sebagai makanan mereka. Mereka juga tumbuhhan, karena mempunyai pigmen untuk fotosintesis seperti tumbuhan, mensekresi jenis bahan serupa tumbuhan yang disebut selulosa sebagai penutup atau pelindung. Mereka dapat dimasukkan ke dalam kelas Dinophyceae, jadi sebagai alga.

Kelompok biota ini dapat di definsikan sebagai berikut :
a.    Organisme yang khas mempunyai satu atau lebih flagella
b.    Soliter atau berkoloni
c.    Perkembangbiakan secara aseksual, khususnya dengan pembelahan biner. (binary fission).
d.    Permakanan dapat bersifat autotrof, heterotrof, miksotrof.

E.  Reproduksi Protozoa
Protozoa dapat berkembang biak secara seksual dan aseksual. Secara aseksual protozoa dapat mengadakan pembelahan diri menjadi 2 anak sel (biner), tetapi pada Flagelata pembelahan terjadi secara longitudinal dan pada Ciliata secara transversal. Beberapa jenis protozoa membelah diri menjadi banyak sel (schizogony). Pada pembelahan schizogony, inti membelah beberapa kali kemudian diikuti pembelahan sel menjadi banyak sel anakan.

Perkembangbiakan secara seksual dapat melalui cara konjugasi, autogami, dan sitogami. Protozoa yang mempunyai habitat atau inang lebih dari satu dapat mempunyai beberapa cara perkembangbiakan. Sebagai contoh spesies Plasmodium dapat melakukan schizogony secara aseksual di dalam sel inang manusia, tetapi dalam sel inang nyamuk dapat terjadi perkembangbiakan secara seksual. Protozoa umumnya berada dalam bentuk diploid.

Protozoa umumnya mempunyai kemampuan untuk memperbaiki selnya yang rusak atau terpotong. Beberapa Ciliata dapat memperbaiki selnya yang tinggal 10 % dari volume sel asli asalkan inti selnya tetap ada.



F.   Fisiologi Protozoa
Protozoa umumnya bersifat aerobik nonfotosintetik, tetapi beberapa protozoa dapat hidup pada lingkung ananaerobik misalnya pada saluran pencernaan manusia atau hewan ruminansia. Protozoa aerobik mempunyai mitokondria yang mengandung enzim untuk metabolisme aerobik, dan untuk menghasilkan ATP melalui proses transfer elektron dan atom hidrogen ke oksigen. Protozoa umumnya mendapatkan makanan dengan memangsa organisme lain (bakteri) atau partikel organik, baik secara fagositosis maupun pinositosis.

Protozoa yang hidup di lingkungan air, maka oksideng dan air maupun molekul-molekul kecil dapat berdifusi melalui membran sel. Senyawa makromolekul yang tidak dapat berdifusi melalui membran, dapat masuk sel secara pinositosis. Tetesan cairan masuk melalui saluran pada membran sel, saat saluran penuh kemudian masuk ke dalam membrane yang berikatan denga vakuola. Vakuola kecil terbentuk, kemudian dibawa ke bagian dalam sel, selanjutnya molekul dalam vakuola dipindahkan ke sitoplasma.

Partikel makanan yang lebih besar dimakan secara fagositosis oleh sel yang bersifat amoeboid dan anggota lain dari kelompok Sarcodina. Partikel dikelilingi oleh bagian membran sel yang fleksibel untuk ditangkap kemudian dimasukkan ke dalam sel oleh vakuola besar (vakuola makanan). Ukuran vakuola mengecil kemudian mengalami pengasaman. Lisosom memberikan enzim ke dalam vakuola makanan tersebut untuk mencernakan makanan, kemudian vakuola membesar kembali.

Hasil pencernaan makanan didispersikan ke dalam sitoplasma secara pinositosis, dan sisa yang tidak tercerna dikeluarkan dari sel. Cara inilah yang digunakan protozoa untuk memangsa bakteri. Pada kelompok Ciliata, ada organ mirip mulut di permukaan sel yang disebut sitosom. Sitosom dapat digunakan menangkap makanan dengan dibantu silia. Setelah makanan masuk ke dalam vakuola makanan kemudian dicernakan, sisanya dikeluarkan dari sel melalui sitopig yang terletak disamping sitosom.
Poskan Komentar
end-->